Home > Uncategorized > Prosperity Consciousness, Cerita Mardigu WP [3 of 3]

Prosperity Consciousness, Cerita Mardigu WP [3 of 3]

Sepulangnya dari belajar.

Jujur, 3 bulan setelah kembali. Saya belum memulai mempraktekan. Belief sistem saya tertabrak tabrak.
Nasib kita yang menentukan? Sementara saya punya keyakinan nasib ditentukan Tuhan.

Sebuah tabrakan belief sistem. Saya belum bisa terima. Kalau saya tidak terima. Saya harus menerima kondisi sekarang. Berhutang dan hidup susah. Memulai sesuatu akan terbawa putaran sama. Memulai yang baru harus merubah belief sistem. Ini pengalaman
saya. Mungkin hanya terjadi pada saya.

Pelajaran mengcancel doa.
Dalam sebuah sesi di millioanire mindset ada pelajaran berfikir dan berdoa yang tidak boleh dicancel.

Contohnya, saya diperintahkan memohon waktu itu. Misalnya memohon Berikan 1 milyar rupiah pada akhir bulan ini.
Saya manut, “Ya Allah saya minta 1 milyar di rekening saya akhir bulan ini”.
Lidah saya berucap, hati kecil saya berkata lain, mungkinkah? Darimana caranya?”
Dan perkataan di hati kecil itu di pelajaran yang saya peroleh adalah mengcancel doa. Hal itu membatalkan doa.

Dalam membuat permohonan tidak boleh dicancel. Percaya utuh. Setiap keraguan harus dipanjatkan lagi permohonannya. Ulang lagi. Karena permohonannya dicancel sendiri.

Ribuan kali saya coba, ribuan kali saya cancel.
Belief sistem saya belum bisa terima. Masak sih? Kok gitu doang? Emang bisa? Dari mana caranya?

Di Tahun 2001 itu saya bekerja untuk menutupi biaya hidup dan sebagian cicilan hutang. Posisi sebagai Direktur Bisnis Advisor dari sebuah investment banking ternama PT Refund
(sekarang bernama PT Recapital) di jakarta cukup besar kompensasi bulanannya. Namun hanya kerja kontrak. Hanya dari 2000-2002, 24 bulan. Kontrak akan berakhir 9 bulan lagi dari masa saya ke australia tersebut.

Suatu pagi. Saya meminta anak kedua saya fathur yang berusia 5 tahun, “mas fathur tolong ayah diambilkan sepatu yang hitam” kata saya.
Fathur diam saja.
Saya ulangi sekali lagi ”Fathur, kamu dengar khan ayah suruh apa?” Dia tetap diam dan berjalan menjauh. Suara saya tinggikan, intonsi suara saya tekan. Dia diam menunduk. Emosi saya terpancing, “ini anak kok gak nurut sih!” kata saya dalam hati.

Saya berjalan ke arahnya. Gerakan marah terpancar di wajah saya. Matanya menatap saya tepat di mata saya. Agak ketakutan ekspresinya.
Saya kaget, “kok dia takut?” Saya berkata dalam hati. Langsung saya berlutut mensejajarkan mata nya dengan mata saya (ini adalah metode dasar psikologi mendidik anak dimana mata sejajar menunjukan kesetaraan, kesederajatan).

Kalau atas bawah, anak di bawah dan orang tua di atas, bola mata anak yg pupil (hitam) di posisi atas ini sangat sugestif membuat posisi orang tua otoritatif dan si anak inferior. Di kondisi saya dan fathur kondisi tersebut tidak
boleh, saya lagi marah, fathur lagi takut jadi langsung saya sejajarkan sehingga dia nyaman karena merasa sederajat.
Saya ubah ekpresi saya, saya datarkan suara saya. “Tolong ambilkan sepatu ayah
sayang?” kaki saya dipeluknya. Bahasa tubuhnya saat itu yang saya rasakan adalah dia tidak mengizinkan saya berangkat bekerja.
Kembali saya terhenyak. Tadinya mau marah, namun signal yang diberikannya cukup kuat, “jangan pergi! ayah belum memberikan banyak rekening emosi ke fathur” Itu yang saya dapat.

Rekening emosi saya kurang kepada fathur. Lama saya menatap wajahnya. Tiba-tiba saya putuskan, baik ayah tidak bekerja hari ini. “Kamu mau apa sayang?”
Ajarin mas fathur naik sepeda roda dua ayah, terus main layangan? Boleh? pintanya dg lagak lucu memiringkan kepala. Saya menganguk. Saya telfon sekertaris saya si Yola tolong bilang pada pimpinan pak Rosan. Saya tidak masuk, off.

Seharian saya ajari fathur naik sepeda roda dua, sorenya kami bermain layangan, 7 jam sangat padat berkualitaslah, setidaknya menurut saya.

Malamnya dia memijat-mijat sebagian tubuh saya. Nikmat sekali rasa dihati. Tiada tara rasanya. “Ah enak ya berkumpul dengan orang yang kita cintai, mengerjakan hal yang kita cintai, mendapatkan uang tak terhingga.”

Seperti KLIK terjadi di Otak .

Saya mendadak seperti mendengar saya
berbicara pada diri saya sendiri, katanya ingin punya anak sholeh, kok ngaji diajari orang lain, belajar sepeda dg orang lain, belajar baca tulis sama orang lain, bagaimana rekening emosi bisa
tumbuh. Bukannya dulu pernah mengatakan bahwa kalau bisa setiap cell dari anak yang tumbuh saya memiliki andil terbesar, agar di kemudian hari tidak ada sesal. Sementara faktanya, setiap hari sibuk. Pagi berangkat anak
belum bangun, pulang anak sudah tidur. Ketemu di kala weekend sdh kecapean pengen istirahat. Anak tau-tau tumbuh membesar dan membesar tanpa ada kontribusi saya apa-apa.

Saya terhenyak.
Lalu saya putuskan seketika itu juga tanpa pikir, cikar kanan, vaya condios. Kita bakar kapal!!
Ini istilah saya mengandaikan tindakan seorang Panglima perang Jabbal Tariq sewaktu menaklukan Gibraltar. Pasukannya kalah jumlah dan nyali ciut mau mundur. Jabbal Tariq memerintahkan bakar kapal. Sehingga
pasukannya tidak ada pilihan kecuali maju berperang.

Besoknya saya membuat surat resign. Tertuju pada partner owner perusahaan tersebut, rosan roslani. Saya mendadak percaya 100% bahwa uang akan datang kesaya. Tanpa usaha banyak.
Dan saya tidak pernah cancel. Utuh saya
percaya permohonan itu pada Tuhan. Entah mengapa? Tapi saya percaya dan semangat sekali.

Hari berlalu tanpa ada yang istimewa. Herannya orang modern seperti saya tidak banyak tanya-tanya. Enjoy total. Benar seperti orang aneh.
Nggak mikir blass.

Sore itu saya menyiram bunga. Di luar dari kebiasaan. Saya tidak pernah siram bunga. Tahu-tahu sebuah motor menghampiri. Pengemudinya menggunakan helm berkaca gelap. Saya tidak tahu siapa dia.

“Sore bapak” katanya sambil membuka helm.
Eh, ray sahanaya rupanya, dia orang ambon tetangga saya yang tinggal berjarak tiga rumah di sebelah. Dia mengontrak disana.

“Begini bapak, bapak adakah uang 10 juta di tangan?” Katanya dengan logat ambon yang kental. “Maksudmu?” tanya saya.

“Begini bapak, beta mau jual samua barang di rumah beta bapak. Beta jual 10 juta bapak. Termasuk motor baru ini bapak. Tv, kulkas, AC, kontrakan rumah, samua bapak ambil boleh kah?”

“Wah …. ray, jujur uangku hanya 6 juta, Inipun buat bayar hutang besok” saya menjawab apa adanya.

Dia terdiam. kemudian berkata, “beta dapat kerja kapal bapak. Malam ini kapal so angkat jangkar, jam sambilan kita so balayar bapak, beta dikontrak 3 tahun bapak. Gajih bagus 2500 dollar
sabulan bapak. Beta harus cepat-cepat balik pelabuhan bapak”
Lalu dia terlihat berfikir sebentar dan kemudian berkata, “Baiklah bapak, beta kasi bapak samua. Bisa kasih 6 juta sekarang kah?”
“Ada” saya menjawab.

Saya masuk kedalam 1 menit, keluar saya berikan uang 6 juta. Dia senang sekali giginya yang putih berkilat tak pernah hilang dari bibirnya, ray menandatangi tanda terima, dan 3 lembar kwitansi kosong untuk motor. Dan kunci kontrakan. Bawa koper berangkat pakai ojek.

Saya terdiam. Memegang 2 kunci. 1 kunci
rumah kontrakan, 1 kunci motor beserta surat-surat. Saya ke kontrakannya yang lebih luas sedikit dibanding rumah kontrakan saya. Cukup rapih untuk seorang bujangan. Barang-barangnya
terawat. Keesokan harinya saya jual semuanya kecuali motor yang saya butuhkan mengganti Honda tiger saya, juga ongkos sekolah ke australia. Total saya memperoleh sisa uang 19
juta! Dan rumah kontrakan yang masih 1 tahun lagi. Catatan: kontrakan saya tinggal tersisa 2bulan kala itu.

Inikah prosperity conscious itu?

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: