Home > Reflection > Aku, Saat Ini, dan Pikiranku.

Aku, Saat Ini, dan Pikiranku.

“Sang Budha berpikir tentang bagaimana pikirannya berpikir”.

Menanggapi berita gembira dari basabasi.co tentang kiriman tulisan yang dihadiahi sejumlah uang http://basabasi.co/ngirim-tulisanmu/ maka saya memutuskan untuk menulis di blog saya saja, hehe (jumlah minimum tulisannya masih terasa maksimal untuk saya saat ini) #ngakak

Seperti yang kita ketahui, sebagai manusia, kita mempunyai default pikiran yang selalu melompat ke sana – ke mari. Manusia berpikir sampai dengan 60000 hal setiap harinya, begitu menurut hasil penelitian.

Pikiran manusia lebih banyak melompat menyesali masa lalu, atau melayang mengkhawatirkan masa depan. Sangat sedikit kita berpikir tentang saat ini, kecuali untuk tugas-tugas kantor atau akademis.

Kata ‘kekinian’ semakin rancu saat memasuki dunia media sosial, seperti juga banyak suku kata lainnya yang telah rusak atau kehilangan makna sebenarnya setelah masuk ke dunia maya jauh sebelumnya.

Padahal menurut penelitian lainnya, otak manusia hanya mampu berfokus pada satu hal di satu waktu. Betapa banyak kita menyiakan waktu untuk berpikir tentang hal yang tak menentu.

Aliran informasi begitu deras tanpa mampu kita bendung. Setiap menit informasi selalu terupdate, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Respon pikiran kita akan informasi-informasi yang masuk bisa menentukan kadar happy atau kadar stress diri kita. Seringkali mengabaikan aliran informasi dari luar adalah auto-respon yang terbaik.

Pikiran adalah sahabat terbaik yang kita miliki (atau juga musuh terburuk). Pikiran selalu menemani kita saat sendiri, atau saat bersosialisasi. Pikiran dapat membuat kita tidur nyenyak, ataupun tak dapat tidur. Pikiran mampu membuat kita tertawa dan juga menangis, bahkan bergantian dalam waktu yang sangat berdekatan.

Lalu apa yang mampu kita perbuat agar selalu bisa mengontrol pikiran kita? Jawabannya sederhana, walau prakteknya tidak sederhana. Selalu eling lan waspada, selalu sadar untuk sadar.

Berbagai macam agama atau keyakinan sudah mengajarkannya masing-masing. Agama Islam misalnya, menganjurkan untuk selalu berdzikir (menyebut nama Allah) baik dalam keadaan duduk, berdiri, maupun berbaring.

Namun lagi-lagi, lebih mudah mengingat landasan teorinya dibandingkan dengan mengingat untuk selalu mempraktekkannya.

Hidup kita sangat dinamis, seperti saat sedang bermain di tepi pantai. Terkadang kita berlari panik karena ada ubur-ubur beracun mendekati, dan terkadang kita terlena karena melihat putri duyung yang cantik di pulau seberang sana. Seketika pikiran bisa lepas meninggalkan tugas yang telah diberikan (berdzikir).

Karena kehidupan ini adalah semesta kemungkinan, maka setiap hal adalah mungkin terjadi dan mungkin dilakukan walau di tengah badai kesukaran.

Apa yang bisa kita lakukan? Tidak lain adalah berusaha dan berusaha. Mencoba dan mencoba, kata si debbydebby.

Berusaha untuk selalu sadar, berusaha untuk selalu berpikir kekinian, berusaha untuk selalu memegang kendali atas pikiran kita.

Atau satu cara lainnya adalah dengan rutin duduk bermeditasi beberapa puluh menit setiap hari, sambil mengucapkan secara terus menerus salah satu contoh affirmasi: “Aku adalah Tuan Atas Pikiranku Sendiri”.

Categories: Reflection Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: