Home > Reflection > Perfectionist Flexible.

Perfectionist Flexible.

Manusia didesain mempunyai hati & otak, perasaan & pikiran supaya bisa menjalani hidup flexibel. Gak kaku.

Boleh perfectionis, tapi harus flexible.

Manusia didesain demikian supaya bisa beradaptasi dengan lingkungan, beradaptasi dengan keadaan. Bukan menyerah, tapi gak selamanya harus melawan mati-matian.

Menyesuaikan itu penting, menyesuaikan dengan lingkungan, menyesuaikan dengan keadaan, menyesuaikan tanpa harus terbawa arus. Bukan mengikuti arus, bukan pula serta-merta melawan arus membabi-buta tak tentu arah, tapi mengikuti gerakan irama arusnya, supaya tak terlempar, supaya tak terluka, sambil terus dan tetap berusaha menggapai tujuan.

Boleh keras, tapi flexible. Harus punya pandangan luas, punya pikiran luas, punya hati juga luas. Gak terkurung di pikiran sendiri, di pandangan sendiri, atau di hati sendiri.
Harus bisa memandang lewat pandangan orang lain, lewat pikiran orang lain, bahkan perasaan orang lain.

Karna sesuatu yang keras, gampang patah, bahkan hancur, remuk.

Bahkan islam adalah agama yg flexible. Sesuatu yang haram bisa jadi halal pada situasi dan kondisi tertentu. Harusnya yang mengaku muslim juga demikian.

“Bukan beratnya beban yang menyakiti, seringkali cara memikul bebannya yang salah.”

Maaf bukan menggurui, sekedar mengingatkan.
Hidup sudah lama, masih kaku aja??

Categories: Reflection
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: