Home > islam > [sedikit] Mengenal Sufi dan Tasawuf.

[sedikit] Mengenal Sufi dan Tasawuf.

“Menyelami Makna pada Semesta Cinta”
Oleh Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siradj M.A
Dalam “Para Tokoh Berbicara” – Makrifat Cinta – Candra Malik

Cinta Allah kepada manusia tidak terpisah dari cinta manusia kepadaNYA. Al-Quran menegaskan, “Hai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu murtad dari agamanya, Allah akan mendatangkan golongan lain; Ia mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNYA. Rendah hati terhadap sesama mukmin, dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir. Berjihad di jalan Allah, tiada takut akan celaan orang siapapun yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang akan dikaruniakan kepada siapa saja yang dikehendakiNYA. Allah meliputi segalanya dan Ia Mahatahu (QS Al-Maidah 5:54).

Bagaimana kata-kata cinta dalam Al-Quran? Al-Quran menyebut cinta, hubb dan derivasinya 83 kali, sedangkan lawan katanya, benci, bugd-bagda’ sebanyak 5 kali. Kata yang berdekatan dengan bugd adalah sukht, disebut 4 kali; lawan katanya ridha, terulang 73 kali. Hubb dan mahabbah seakar dengan habb, yang artinya biji atau inti. Hubb disebut habbat al-qalb, biji atau inti hati karena keserupaan aktifitasnya. Jika dikatakan, “aku mencintai seseorang”, berarti “aku menemukan inti hatinya”, sama dengan aku jadikan hatiku sebagai sasaran dan tujuan cintanya”.

Banyak ayat Al-Quran yang menekankan keutamaan cinta. Misalnya Allah berfirman bahwa Dia akan mengaruniakan cinta kepada orang beriman yang berbuat kebajikan. Selain mengandung dimensi religius, ayat ini juga mengandung dimensi moral dan sosial.

Ayat Al-Quran yang dirujuk dalam melukiskan perlunya jalan cinta dalam tasawuf antara lain, “Aku mencipta jin dan manusia tiada lain supaya mereka mengabdi/beribadah kepadaKU” (QS Al-Zariyat 51:56). Di dalam ayat ini tersirat pengertian bahwa dalam jalan cinta terdapat pengabdian kepada Yang Dicintai. Selain itu, para sufi juga menghubungkan pencapaian di jalan cinta dan perolehan pengetahuan yang mendalam tentang Yang Hakiki. Ibnu Abbas misalnya, menafsirkan “supaya beribadah kepadaKU” dalam ayat di atas sebagai “supaya mencapai pengetahuanKU (melalui jalan cinta)”.

Dalam Al-Quran, perasaan cinta antara lelaki dan perempuan disebut dengan istilah mawaddah, rahmah (QS Al-Rum 30:31); syaghafa (QS Yusuf 12:30); mail (QS Al-Nisa 4:129) dan hub-mahabbah (QS Yusuf 12:30). Istilah yang berbeda-beda ini menunjukan bahwa rumit, mendalam dan ragamnya cinta. Cinta memang memiliki dimensi yang sangat luas dan mendalam di mana perbedaan karakteristik itu akan membawa implikasi pada perbedaan tingkah laku.

Cinta itu sendiri diungkapkan dalam bahasa arab dengan tiga kelompok karakteristik, yaitu apresiatif (ta’dzim) , penuh perhatian (ihtimaman), dan cinta (mahabbah). Tika kelompok karakteristik itu terkumpul dalam ungkapan mahabbah, orangnya disebut habib, habibah, atau mahbub. Secara lebih spesifik, bahasa arab menyebut dengan ebam puluh istilah jenis cinta, sperti ‘isyqun (dalam bahasa Indonesia menjadi asyik), hilm, gharam (asmara), wajd, syauq, dan lahf. Akan tetapi Al-Quran hanya menyebut enam saja.

Dalam pembacaan tasawuf, kecintaan kepada Allah adalah puncak perjalanan manusia, puncak tujuan seluruh maqam. Setelah mahabbah (cinta), tak ada lagi maqam lain, kecuali buah mahabbah itu, seperti syauq (kerinduan), uns (kemesraan), dan ridha. Tidak ada maqam sebelum mahabbah, kecuali pengantar-pengantar kepadanya, seperti taubat, sabar, dan zuhud.

Guru-guru sufi mengajarkan kepada murid-muridnya bahwa kewajiban mereka adalah memenuhi kehendak Allah, bukan karena sebuah rasa kewajiban, tetapi lebih karena cinta. Sebab, adakah sesuatu yang lebih besar daripada cinta yang tak bersyarat yang manusia persembahkan kepada Tuhannya? Seorang pecinta Tuhan tahu bahwa kesusahan adalah tangan Tuhan Yang Tercinta, yang dia rasakan, dia percayai; bahwa apapun yang menimpanya untuk kebaikannya semata, karena Tuhan mengetahui apa yang baik bagi pertumbuhan jiwa dan penyucian ruh.

Pengikut tasawuf sepenuhnya yakin bahwa mengenal Allah adalah pokok dari hikmah dan petunjuk. Sungguh, cinta kepada Allah adalah pintu kecemerlangan dan kebaikan, serta dasar kebahagiaan dunia akhirat. Ya, kaum Sufi menganggap mahabbah sebagai modal utama sekaligus mauhibah dari Allah untuk menuju jenjang ahwal yang lebih tinggi.

Mahabbah menurut arti bahasa adalah saling cinta-mencintai. Dalam kajian tasawuf, mahabbah berarti mencintai Allah dan mengandung arti patuh kepadaNYA dan membenci sikap yang melawan kepadaNYA, mengosongkan hati dari segala-galanya, kecuali Allah, serta menyerahkan seluruh diri kepadaNYA.

Konsep al-hub (cinta) pertama kali dicetuskan oleh seorang Sufi wanita terkenal Rabi’ah Adawiyah (96 H – 185 H), menyempurnakan dan meningkatkan versi zuhud, al-khauf wa al-raja’ (takut dan pengharapan) dari tokoh sufi Hasan Al-Basri. Cinta yang suci murni adalah lebih tinggi dan lebih sempurna daripada al-khauf wa al-raja’, karena cinta yang murni tidak mengharapkan apa-apa dari Allah, kecuali ridhaNYA. Menurut Rabi’ah Adawiyah, al-hub itu merupakan cetusan dari perasaan rindu dan pasrah kepadaNYA. Perasaan cinta yang menyelinap dalam lubuk hati Rabi’ah Adawiyah menyebabkan dia mengorbankan seluruh hidupnya untuk mencintai Allah.

Cinta Rabi’ah kepada Allah Swt, begitu memenuhi seluruh jiwanya, sehingga ia menolak seluruh tawaran untuk menikah. Dia mengatakan bahwa dirinya adalah milik Allah yang dicintainya. Oleh karena itu, siapa yang ingin menikahinya harus meminta izin dahulu kepadaNYA. Pernah ditanyakan kepada Rabi’ah, apakah engkau benci kepada setan?, Dia menjawab, “Tidak, cintaku kepada Allah tidak menyisakan ruang kosong dalam diriku untuk tempat rasa benci kepada setan”. Ditanyakan apakah ia cinta kepada Nabi Muhammad SAW?, Ia menjawab, “Saya cinta kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi cintaku kepada Khalik memalingkan diriku dari cinta kepada makhluk”. Banyak sekali syair dan gubahan dari Rabi’ah menggambarkan cintanya kepada Allah.

Abu Sa’id bin Abi Al-Haz Al-Sufi berkata, “Guruku memegang tanganku dan mendudukanku di dalam suatu ruangan besar, kemudian tangannya mengambil kitab, lalu membacanya. Aku berusaha melihat isi kitab itu, guruku mencuri pandang gerakanku itu, kemudian berkata, “Hai Abu Sa’id, sesungguhnya 124.000 orang Nabi diutus untuk mengajari manusia hanya untuk satu kalimat, yaitu “Allah”. Barangsiapa mendengarkan hanya dengan satu telinga maka akan keluar lewat telinga lainnya. Barangsiapa mendengarkan dengan ruh, lalu melekatkannya ke dalam jiwanya, merasakannya sampai meresap ke dalam relung hatinya, memahami makna ruhiyah-nya dan diilhami cintanya, maka terbukalah baginya segala yang ada”.

Imam Al-Qusyairi, pengarang kitab Risalah al-Qusyairiyah mendefinisikan cinta (mahabbah) Allah kepada hamba sebagai kehendak untuk memberikan nikmat khusus kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Apabila kehendak itu tidak diperuntukan khusus melainkan umum untuk semua hambaNYA, menurut Qusyairi dinamakan rahmat. Lalu jika iradah tersebut berkaitan dengan azab, disebut dengan murka (ghaglab).

Abu Nasr Al-Sarraj Al-Tusi membagi mahabbah kepada tiga tingkat. Pertama mahabbah orang biasa, yaitu orang yang selalu mengingat Allah dengan zikir dan memperoleh kesenangan dalam berdialog denganNYA, serta senantiasa memujiNYA. Kedua mahabbah orang shiddiq, yaitu orang yang mengenal Allah tentang kebesaranNYA, kekuasaanNYA, dan ilmuNYA. Mahabbah ini dapat menghilangkan hijab, sehingga ia menjadi kasyaf, terbuka tabir yang memisahkan diri seseorang dari Allah. Mahabbah tingkat kedua ini sanggup menghilangkan kehendak dan sifatnya sendiri sebab hatinya penuh dengan rindu dan cinta kepada Allah. Ketiga adalah mahabbah orang arif, yaitu cintanya orang yang telah penuh sempurna makrifatnya dengan Allah. Mahabbah orang arif ini, yang dilihat dan dirasakannya bukan lagi cinta, tetapi diri yang dicintai. Pada akhirnya, sifat-sifat yang dicintai masuk ke diri yang mencintai. Cinta pada tingkat ketiga inilah yang menyebabkan mahabbah orang arif ini dapat berdialog dan menyatu dengan kehendak Allah.

Pengalaman cinta sesungguhnaya tidak hanya merupakan keadaan jiwa atau ruhani yang diliputi sejenis perasaan, seperti kegairahan dan kemabukan mistikal (wajd & sukr). Dalam pengalaman cinta yang bersifat transendental, seorang juga belajar mengenal dan mengetahui lebih mendalam yang dicintai, dan dengan demikian cinta juga mengandung unsure kognitif. Bentuk pengetahuan yang dihasilkan oleh cinta adalah makrifa dan kasyaf, tersingkapnya penglihatan batin. Di sini, seorang sufi telah mencapai hakekatdan melihat bahwa hakekat yang tersembunyi di dalam segala sesuatu sebenarnya satu, yaitu wujud dari Pengetahuanm Keindahan dan CintaNYA.

Walaupun istilah ‘isyq tidak terdapat pada Al-Quran, namun para sufi memandang perkataan itu tidak bertentangan artinya dengan mahabbah. Menurut Jalaluddin Rumi, ‘isyq adalah mahabbah dalam tingkat yang lebih tinggi dan membakar kerinduan seseorang sehingga bersedia menempuh perjalanan hauh menemui Kekasihnya.

‘Ala kulli hal, cinta merupakan kewajiban paling mulia dan fondasi keimanan paling kuat. Setiap perbuatan sesungguhnya digerakkan oleh cinta; cinta yang terpuji maupun yang tercela. Segala perbuatan penuh keimanan digerakan oleh dan didasarkan atas cinta kepada Allah.

Nah, buku karya Candra Malik ini kiranya hendak mengajak untuk ‘berselancar’ dalam mengarungi keasyikan dan keindahan cinta. Cinta yang tidak hanya dipahami secara lahiriyah dengan hanya terpaku pada kegairahan formal belaka, melainkan cinta yang menembus batas-batas formalitas, mencairkan kejumudan dan meraih rasa (dzauq), cinta yang menyemesta nan mengharu biru.

Kita tahu, saat ini tengah menjamur kelompok-kelompok islam puritan dan radikal yang dengan militansinya menggelorakan semangat yang berbasis pada penafsiran literalis-harfiah. Meraka dengan galaknya memerangi segala apa yang mereka pandang sebagai bid’ah, khurafat, dan takhayul. Jelas mereka ini menolak penafsiran sufistik karena tasawuf telah dikutuk sebagai bentuk kesesatan. Tak sadar, mereka ini telah menafikan ‘rasaan’ dalam keberagaman dan terpaku pada ‘kegairahan badani’ semata dalam beribadah. Sungguh militansi kebablasan ini telah meluluhlantakan ‘nyawa’ dari beribadah. Karena sesungguhnya ibadah tak cukup hanya olah badan saja, tetapi justru harus menukik pada olah batin. Sementara olah batin merupakan ‘rimba raya’ yang pencapaiannya tak sekedar ritual tubuh, yang dibarengi dengan tampilan-tampilan yang seolah islami, melainkan dunia batin harus dijalani dengan pelatihan (riyadhah) dalam cakupan penyucian jiwa (tazkiyah al-nafs).

Nah kehadiran buku ini akan membuat kita melek betapa cinta dalam segala tingkatan apapun perupakan ‘tambatan’ yang niscaya. Perenungan cinta hingga mencapai makrifat cinta sungguh merupakan maqam yang seharusnya dilalui bagi setiap insan, terutama mereka yang mengaku beragama. Sehingga keberagaman tidak lagi kering dan hampa, melainkan menguat karena basah oleh tarikan cinta. Kita memang perlu memakrifatkan diri agar tidak terhijab oleh ketidaktahuan atau keangkuhan diri, seolah kita sudah mampu memahami keberagaman kita, padahal kita masih jauh berada di tepian makrifat. Semoga. Wallahu a’lamu bi al-sawab.

Ciganjur, November, 2012.

*mohon maaf jika ada ketikan yang salah.

Categories: islam
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: