Home > Reflection > Reflection

Reflection

Setiap sajak punya kegaibanya sendiri
Setiap tetes tinta punya takdirnya sendiri
Menjadi kata yang baik kah?
Atau hanya umpatan?
Sang tinta pun tak tahu takdirnya sampai ia sendiri merasakan tubuhnya menggores kertas dan tak berapa lama mengering

Lalu apa?
Marah?
Tak terima?
Namun itu tak merubah goresannya sama sekali
Sadarkah bahwa kata umpatan pun termaktub di dalam kitab suci?
Menegur yang lalai
Meluruskan yang bengkok
Menghancurkan yang keras

Ya
Seperti itulah takdir
Kita tak bisa memilih
Akankah lahir sebagai raja?
Atau lahir sebagai budak – narapidana?

Namun kita bisa memilih
Apakah kita menjadi raja yang benar-benar raja?
Ataukah menjadi raja yang selalu merasa terkungkung dalam tempurung layaknya budak – narapidana?
Kita juga bisa memilih
Akankah menjadi budak – narapidana yang selalu meratapi tembok – tanah dan atap kamarnya yang selalu gelap?
Ataukah menjadi budak – narapidana yang merasa hidup bagaikan raja: makan gratis, tidur gratis, dan punya pengawal pribadi yang selalu menjaga rumah megah dengan seribu kamar

#–21122013–#

Categories: Reflection Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: