Home > Reflection > Metamorfosa.

Metamorfosa.

Masa demi masa mempunyai kadarnya sendiri, lalu kita menyesuaikan diri untuk melewatinya.

Kita pernah menjadi ulat, bermula dari sebuah telur kecil yang diletakan oleh Induk Kupu-kupu yang cantik di ujung daun yang indah. Kita menetas, berjalan perlahan dari satu dedaunan ke dedaunan lainnya, tak pernah ada beban.

Lalu tanpa sebab musabab kita diharuskan menjadi kepompong, sendiri dalam kesendirian, hampa, mencari makna hidup, mencari cahaya.

Sekian lama kita berkumul dalam ruang, lalu perlahan keluar dengan sayap yang masih melekat basah, belum bisa digunakan. Kita masih menunggu. Menunggu takdir berikutnya.

Sayap kita telah mengering, menyempurna, indah dengan segala coraknya, lalu kita bisa terbang bebas ke angkasa sesuai dengan batas kemampuan yang Allah berikan kepada kita sang kupu-kupu dewasa. Sampai pada waktunya nanti kita mati, kita terus tetap mencari makna kesejatian diri.

Begitulah perjalanan hidup. Dimulai dari tiada, lalu ada, dan kembali menjadi tiada.

Categories: Reflection Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: